Selasa, 11 Desember 2007

Menyesalkah..

Menyesalkah sekarang..,
Bila ternyata tak jua mampu melangkah utuh.........
Bila kebimbangan terus menghantui
Haruskah terus melaju...

Dimana...
Seandainya kutanya engkau tak jua menyahut gema..
Seandainya kutatap kutau engkau tetap teguh bertahan
Haruskah menyesal.....................

Aku akan coba tetap tertatih menujumu..
Aku akan coba untuk menepis semua gundah ketika menggores wajahmu dihatiku
Aku hanya bisa mencoba..........
Dan mungkinkah jadi sesalan...................

Minggu, 09 Desember 2007

Tidak...bukan karna itu

Tidak, bukan karna itu aku menangis...
Hanya saja, aku harus merelakan keteguhan untuk bertahan..
Hingga tak satupun ad dipihakku...
Aku harus mengalah!!!!

Tidak, bukan karena engkau..
Karna begitu tipis hijab mataku dengan warnamu...
Begitu ringkih jiwaku sehingga takkan berani berharap apapun.
Tidak, ini hanya egoku.

.................................................................................................................

Ternyata, prinsip bukan diatas segalanya itu yang mereka coba terangkan padaku. Aku terlalu sempit berpikir, aku memikirkan sisi negatifnya saja. Aku tidak berpikir ketika itu orang tua harus bersusah payah memikirkan anak gadisnya hidup denganku seperti apa???

AKu, dengan egoku berusaha bertahan, berusaha menjelaskan akan tetapi tetap mentok. Hingga akhirnya mereka berkata Kami udah kehilangan satu, jangan sampai kehilangan yang ini juga. Begitu sayangkah mereka?? Aku harap tidak lebih dari anaknya sendiri.

Pada akhirnya aku yang berputar-putar dengan egoku harus luluh lantak terisak. Meraung dan kalah diterjang. Mereka berkomplot ataukah memang aku yang ternyata tidak pantas hidup dijaman sekarang???

Perih dan tak mampu memperjuangkan prinsip hidup sendiri, aku kalah.

Pelangi, jelas aku tak mungkin menghubungimu di tengah malam buta. Di antara isak pedihku, diantara luruhnya ego prinsipku. Tidak mungkin pelangi.

Aku sedih lebih bukan karena aku harus berpisah seandainya itu terjadi, tetapi terlalu banyak kepentingan yang mengaduk-aduk keputusanku.

Tidak pelangi, bukan karena engkau dan teman yang laen. Tapi emang aku tetap merasa sendiri......
.................................................................................................

Jika rengkuhan awan tak mampu menghangatkan petir yang bergelombang
Maka biarkanlah rintihan hujan menyayat sembilunya petang....

Jika semburat dan gemeretak dahan tak jua membendung teriknya engkau
Maka biarlah sedu sedan yang mengawali tapak langkah ini.......

Maaf juwita, maaf pelangi, maaf prinsipku...
AKu kalah!!!

Kamis, 06 Desember 2007

jadi, gimana dunk...

Aku tau...
bagi orang laen mungkin aku termasuk yang beruntung. Bagaimana tidak, pacar cakep trus masuk pns di usahain calon mertua. Bahkan termasuk bayar2annya.
...........

Tapi aku tidak mau!! Sori mori, aku punya prinsip dan bagaimanapun prinsipku harus tetap tegak bahkan lebih tinggi dari ku. Aku tidak mau menadahkan tangan dan bergelayut di kaki orang tuamu.
Mungkin aku sok idealis tapi itulah aku. Bila emang aku harus menjalani hidup denganmu. Biarlah kita memulai dengan tidak menyusahkan orang laen. Biarlah kita memulai dengan bismillah dan mencoba untuk tetap lurus.
Engkau menangis, jelas aku juga akan menangis. Apabila ternyata aku harus tersudut dan memilih antara engkau dan Tuhan ku maka akan kupilih Tuhanku. Akan kupilih walo perih.
.............................
Nah jadi, aku harus gimana dunk. Jelas, aku yang lelaki tetapi aku selalu dalam keadaan tersudut. Aku tidak ingin melihat air matamu lagi dan lagi.

............................

Mungkin, bila emang mungkin. Maka selaksa karang kokoh menerjang seorang ksatria laen kan menunggumu. Punya masa depan cerah dan 1000 kebaikan.
..............................
Mungkin bila memang mungkin. Aku hanya akan mengucapkan doa selamat dan kebaikan bagimu. Walo mungkin aku harus mengais-ngais kenangan denganmu...

Rabu, 05 Desember 2007

Heuh... terus saja mengeluh

Hari ini.. sepi!
Sendiri dan tenggelam dengan kerja yang gak pasti...
Hari ini... pilu sembilu!!
Ngerasa bahwa aku tak bisa ngadepin sendiri. Membuncahlah rasa........biarkan mengalir kepedihan di kepundan lelah..
Hari ini... bayangmu tetap menari nari.
Haruskah terus menyiksa mimpi mimpiku?
Kalau memang engkau takkan mungkin kuraih...
Maka biarkan hari ini aku menepis senyum manismu!!!!
Karena hari ini.........
Aku harus bisa tanpamu.

Selasa, 04 Desember 2007

Lah.. aku gak bermaksud .....

Aku bener2 gak bermaksud jadi bebanmu. gak bermaksud jadi beban sapapun, apalagi sama orang2 yang kusayangi.
Aku cuma menumpahkan lelah. Lelah karna terus menolak kehadiranmu. Lelah menolak bahwa sanya aku begitu merindumu... Lelah menolak semua ini..

Sekarang, aku yakin engkau juga menjauhi ku. Mencoba menyadarkan ku semua adalah sia sia. Menyadarkanku kalo ad seorang dewi yang menanti. Yang berjuang untuk bertahan.

....................

Pelangi, engkau lah pusat gravitasi itu sendiri. Engkau menarik sekelilingmu untuk meminta perhatian dari mu walo pun secuil.

.....................

Maap kalo gitu pelangi.., maap...............

Senin, 03 Desember 2007

Monyet kau itu

Ko pikir urusanku apa
Macam anak2 aja.. Dasar monyet!!!

Bukan cuma kau yang lagi sedih karna kontrak. Temen2 yang laen juga. Emang kami harus belikan kau permen, ato netekin kau...?

KAlo gak mikir temen2 yang laen dah kupites kepalamu itu!!! Monyet kau!!!

Aku makin gak ngerti........

Sungguh aku makin gak ngerti..,
Semakin jauh dan dalam merasuk ke otakku. Menjelma di tiap sel menjadi bayanganmu...
Bagaimana ini pelangi..?
Engkau bertanya apa bagusnya dikau.. Jelas aku gak tau. Aku cuma gak bisa menghilangkan bayanganmu sedikitpun. Aku coba untuk tidak memikirkan mu, malah engkau berturut turut hadir dimimpiku.
Apa salah ku dan apa salahmu..?

Sedikit saja lenyap senyum diwajahmu tercabik hatiku, sedikit saja perhatian tercurah darimu berjuta rasa dijiwaku..?
Cinta? Itu yang dulu kupaksakan hadir untukmu dimana aku juga tertahan pada bidadari lain.

Tidak, aku tidak akan pernah pantes untukmu. Merasa cukup keberanian untuk memintamu jadi pendampingku. Tidak. Aku tidak berani memilih.. Dia dewi ku dan engkau permaisuri hatiku.. Terbelahkah hatiku? Tidak. Bahkan hampir seluruh malamku menghadirkan segurat lembut wajahmu.

Mencoba menepismu.. Belajar untuk memahami bahwa semua itu hanya sia-sia. Semua rasa ini adalah jarum-jarum yang akan menyiksa.


Pedulikah aku? HUuuuuhhh..., bukan kecantikanmu. Karena engkau memang tidak cantik. Hanya saja engkau pelangi. Bukan cuma merah kuning ijo, tapi seluruh warna meresap di keceriaanmu, di senyummu dan bahkan diketus kata-katamu..


Biar, mungkin perlahan. Aku dapat mencabut jarum ini atau mungkin menekannya semakin dalam di relung hatiku hingga terbenam jauh.