Senin, 11 Februari 2008

Tuhan, ini aku...

Tuhann.. ini aku. Lagi dan lagi mencoba menghampiriMu. Lagi dan lagi terbenam dan terpasung menjauh dariMu.
Allahu rabb, ini hambamu yang telah berulangkali menyesal dan berulang kali pula kembali melakukan hal yang sama. Berulangkali terisak pedih dan berulang kali tertawa lebar memunggungiMu.
Ini aku ya Rabb yang demikian pongah melupakan janji padaMu, demikian pongah melupakan peranMu yang begitu besar dalam hidupku..
Tak berani aku memohon lagi kepadaMu, berulang memerintahMu agar mengabulkan semua keinginanku. Tak berani aku menatapMu walau aku tau Engkau begitu merindukan lirih doa hamba-hambaMu.
Rabb... begitu tidak pahamnya aku kepadaMu..dan begitu Engkau yang kuasa begitu memahamiku. Dengan mudahnya engkau tidak mengizinkanku menjadi seorang pilot hanya dengan mensirkannya ke hati ibuku untuk melarangku. Padahal tidak ada sesuatu pun yang kurang dariku. Hingga akhirnya aku sadar, seorang pilot bukanlah orang yang takut ketinggian. Tapi aku malah begitu ceroboh untuk mencobanya...
Begitu gampangnya engkau menggagalkanku lulus kedokteran. Bahkan 2 kali. Padahal semua ujian tertulis itu telah dengan yakin akan kumenangkan. Dan ternyata aku tahu, tidak mungkin seorang dokter itu mempunyai penyakit lupa yang begitu parah seperti aku. Akan begitu sangat malu ketika tercetak dimedia massa seorang dokter meninggalkan sarung tangan, gunting bahkan stetoskopnya didalam perut pasien hanya karna penyakit lupanya. Itu bencana serius....
Dan sekarang, begitu bencinya aku untuk menjadi PNS malah dengan sangat mudah aku lulus di dalamnya. Engkau tahu aku tidak belajar serius, tidak mengerjakan ujian itu dengan serius dan tidak ingin lulus dengan serius. Apalagi yang akan engkau rencanakan untukku.
Aku tau Engkau begitu menyayangiku, lebih dari yang aku tahu malah. Dan, aku yakin itu. Aku tau engkau tidak ingin aku terjebak hutang budi dengan seseorang, Engkau lebih suka aku berdiri diatas kaki ku sendiri walau susah daripada harus bertopang pada orang lain. AKu tau Engkau begitu menyayangiku.
Namun, apa yang kulakukan. Aku menjadi kufur ya RAbb. aku tetap tidak ikhlas menerima keputusanMu, dalam hatiku tetap ada titik2 kepongahan yang menjelma menjadi dosa. Sekali lagi aku memunggungi Mu.
Aku tidak siap untuk tidak melihat pelangiku lagi, aku tidak siap untuk berpisah dari "cinta"ku bahkan aku tidak siap untuk berleha2 dengan masa depanku yang baru ya Rabb...
Bahkan sekali lagi, ENgkau lebih tau apa yang ada di hatiku. ENgkau lebih tau bagaimana gelisahnya aku, bagaimana aku begitu merindukan satu orang saja untuk menjadi tempat berbagi yang halal bagiku.
Rabb, hanya Engkau yang lebih tau bahwa aku tidak ingin menyusahkan orang lain terutama kedua orang tua ku.
Engkau yang lebih tau bahwa aku ternyata begitu menginginkanmu dalam hatiku. Namun zumrah keempat ini tidak dapat kuhancurkan. Bagaimana mungkin aku bisa tawadhu, qanaah, zuhud, dll itu bila ternyata aku masih bangga dengan diriku. Masih merasa hebat dengan kemampuanku, masih tak mampu meredam nafsuku.
Dzat yang begitu mulia... tak ada yang mampu menandingimu. Hanya ini yang mampu kusampaikan. Izinkan aku memulai lagi untuk belajar mencintaimu. Dan mungkin ini akan terus berulang hingga aku mendapat hidayah dariMu. Ampunanmu lebih kuharapkan dari apapun.
Ohya, y Rabb. Sudikah engkau menyampaikan rindu ini pada Pelangiku.. Bener, aku rindu padanya. Dengan izinMu yang maha Pengasih....

Tidak ada komentar: